Setelah Diekspor ke Eropa, Karya Narapidana Kini Dipamerkan

Publik sering kali memandang narapidana sebagai penjahat kejam dan seram. Tapi tak banyak yang tahu di balik jeruji besi, mereka sebenarnya mencoba bertobat. Bahkan berkarya, hingga berbagai produk dihasilkan ada yang diekspor ke berbagai benua. Produk yang dihasilkan pun beragam mulai kerajinan tangan,pakaian,batik, berbagai produk kreatif, hingga mebeler.

Sebagai bukti, bermain bandar casino terpercaya kini karya para napi di seluruh Indonesia akan dipamerkan hari ini sampai empat hari kedepan di The East Building Mega Kuningan,Jakarta Selatan. Acara ini terwujud atas kerja keras Evy Amir Syamsuddin,istri Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin. Tak kurang 200 produk hasil karya para narapidana dari 418 lapas dan rutan se-Indonesia dipamerkan dan dijual di Napi Craft 2012 pada 17–21 Desember.

“Mereka (napi) punya kemauan untuk menjadi manusia yang berdaya. Karena itu,hasil karya mereka akan kita pamerkan ke masyarakat,” ujar Kepala Seksi Peliputan dan Penyajian Berita Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Ika Yusanti di kantornya akhir pekan lalu.

Ika yang juga panitia acara itu memaparkan, ajang ini diharapkan bisa menggugah investor untuk bisa mengembangkan hasil karya para narapidana menjadi produk massal yang dikomersialkan. “Mereka ini (para napi) punya potensi untuk bisa menjadi kreatif, bisa menghasilkan produk unggulan. Maka itu dibutuhkan suatu fasilitas bagi mereka untuk mengomersialkan hasil produknya,” kata Ika.

Beberapa lapas,lanjut dia, sebetulnya sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan swasta untuk memasarkan produk napi. Di Lapas Porong Sidoarjo, Jawa Timur,misalnya, yang menghasilkan produk mebel. Lapas itu bekerja sama dengan perusahaan yang menjual produk mebel bernama PT BMS. Para napi yang bekerja memproduksi mebel digaji oleh perusahaan itu. Uang yang diterima dimasukkan ke rekening para napi. “Produknya bahkan sudah diekspor ke Eropa,” terang Ika.

Saat PON di Riau tahun ini, Lapas Bangkinang Riau pernah menerima pesanan sekitar 5.000 sandal hotel dari penginapan di sekitaran arena. Lapas Narkoba Gintung bahkan memproduksi bola dan kursi dari rotan sintetis. “Bolanya kini juga diekspor,” ujar Ika. Sistem pemasyarakatan di lapas,lanjut dia, bukan lagi tempat khusus untuk menciptakan efek jera, namun juga membuat mereka, para napi, bisa berdaya dan memiliki keterampilan khusus.

Diharapkan setelah keluar dari penjara,mereka menjadi manusia mandiri, memiliki penghasilan,dan tidak lagi berbuat kejahatan. “Kita melakukan pembinaan kepribadian, dalam hal ini pembinaan rohani-mental. Selain itu,kita bina juga soal kemandirian. Di sini kita berikan pelatihan keterampilan kerja,” papar Ika.

Untuk memulai langkah pembinaan kemandirian, setiap lapas melakukan pemetaan potensi para narapidananya. Setelah diketahui bakat dan potensinya, para napi dilatih untuk segera menghasilkan produk, baik produk barang maupun jasa. Sarana dan prasarana disediakan oleh lapas. Anggarannya diberikan pemerintah.“Ada kendala, yakni kurangnya investor untuk menjadikan produk mereka diproduksi secara massal dan tidak semua lapas memiliki sarana yang memadai untuk menampung potensi para napi, ”beber dia.

Para napi ini juga dituntut agar produknya mengikuti perkembangan zaman. Karakteristik napi yang relatif keras dan cenderung kasar didalami dan dipelajari dengan skema oleh pelatihan kepribadian. Menurut Ika, mengajak para napi untuk memberdayakan diri merupakan tantangan tersendiri. “Mereka itu memiliki pemikiran yang instan, ingin langsung jadi, ingin langsung menghasilkan, punya uang, tanpa ada proses. Nah, tugas kitalah untuk mengubah pemikiran itu. Ini tantangan,”ungkap Ika.

Pada 2012,jumlah warga binaan yang terlibat dalam produksi di sektor industri berjumlah 5.391 orang,jasa 632 orang,pertanian dan perkebunan 593,perikanan dan peternakan 421.Total napi yang mengikuti bimbingan latihan dan keterampilan berjumlah 4.777 dan bimbingan kerja lingkungan 2.053. Acara Napi Craft 2012 rencananya dibuka Menteri Negara Koperasi dan UKM Syarief Hasan dan Menkumham